Friday, 18 July 2014

The Black Code 3



Tittle : THE BLACK CODE
Main Cast : Kim Taehyung-김태형 (BTS), Oh Hwayeon-오화연, Kim Junghwan-김정환.
Support Cast : All member BTS.
Genre : Mystery, Crime, Psychology, Romance.
Leight : Chaptered
Author : Fellicia Kim 

Disclaimer : THIS FF IS MINE. NO PLAGIARISM, NO SILENT READER, & NO BASH.
*****

[CHAPTER 3 : IT MUST!]

Sunday, August 17th 2013_
“Annyeong haseyo!” Ujar taehyung sembari mengetuk pintu apartement Hwayeon. “Hwayeon-sshi! Apakah kau ada didalam?” tanya Taehyung yang masih mengetuk. Tidak ada jawaban. “Hwayeon-sshi! Oh Hwayeon-sshi! Apakah kau ada di dalam?” tanya Taehyung mulai cemas. Taehyung yang panik pun mencoba membuka pintu apartemen yeoja itu. Tak dikunci. Dengan memberanikan diri, Taehyung pun masuk ke dalam.
“Hwayeon-sshi! Apa kau baik-baik saja?” tanya Taehyung sambil melangkah pelan. Tiba-tiba, Tahyung merasa ada yang mengganjal di kakinya. Taehyung pun melirik ke bawah. Dilihatnya Hwayeon terbujur lemah di atas lantai.
“Hwayeon?” ujar Taehyung. Perasaan Taehyung kini bercampur melihat yeoja yang sampai sekarang masih ia cintai ini. Disamping Hwayeon, dilihatnya kotak berpita merah muda yang didalamnya terdapat boneka yang tertusuk pisau kecil. Sepertinya, Taehyung mengerti apa yang telah terjadi. Dengan tulus, Taehyung merangkul tubuh Hwayeon dan membaringkannya di sebuah sofa. Tak lupa juga ia membakar boneka itu beserta kotak-kotaknya. Ia tak ingin Hwayeon yang sudah sadar akan pingsan lagi jika melihat boneka itu. Taehyung yang masih cemas dengan keadaan Hwayeon memutuskan menjaganya, hingga Hwayeon sadar.
“Taehyung?” ujar Hwayeon melihat keadaan temannya yang duduk disampingnya itu. Seberkas kejadian buruk itu pun melintas dikepalanya. “Taehyung! Orang itu! Dia ingin membunuhku!” pekik Hwayeon kepada Taehyung. Mata Hwayeon pun kini berkaca-kaca. “Aku takut.”
“Aku tahu.” Ujar Taehyung sembari menghenbuskan nafas beratnya. Taehyung pun memeluk tubuh gadis itu. “Tenang, aku akan melindungimu.” Jelas Taehyung.
“Gomawo.” Ujar Hwayeon gembira. Taehyung tersenyum.
“Baiklah, aku pergi dulu. Langit mulai gelap. Istirahatlah dulu, besok aku akan kembali kesini,” tambah Taehyung.
“Taehyung-ah! Jangan tinggalkan aku! Aku takut!” mata Hwayeon mulai berkaca lagi. Taehyung tampak menimbang-nimbang.
“Baiklah. Kau bisa menginap di apartemenku beberapa hari.” Ujar Taehyung. Hwayeon tampak gembira. Setidaknya ia tidak tinggal di malam hari sendirian.
~~~~~
“Wah! Apakah kau tinggal di tempat seluas ini?” tanya Hwayeon kagum.
“Ne, kau benar,” ujar Taehyung sambil mengambil dua kaleng minuman dan dua cup Ramyeon instan. Taehyung pun memberikan salah satu Ramyeon-nya dan kaleng minuman kepada Hwayeon.
“Oh, gomawo,” ujar Hwayeon. “Hmm, kulihat disini ada tiga kamar. Ada yang tinggal disini bersamamu?” tanya Hwayeon penasaran sambil mencicipi Ramyeon-nya.
“Ani, hanya aku. Tapi terkadang teman-temanku juga menginap disini.” Jawab taehyung santai. Hwayeon tampak memikirkan sesuatu.
“Bagaimana dengan kedua orang tuamu? Tidakkah dia tinggal disini?” tanya Hwayeon.
“Eoh? Hmm, kami sudah lama berpisah.” Ujar Taehyung singkat. Hwayeon terdiam. “Masalahnya ringan. Appa ingin aku menjadi dokter, sementara aku ingin menjadi detektif.” Jelas Taehyung.
“Oh, kau sudah berpisah rupanya. Mianhae, aku sangat penasaran.” Sesal Hwayeon.
“Ani, aku sudah biasa. Ini semua keputusanku. Aku ingin aku bahagia menjadi detektif. bukan menjadi dokter.”
“Ah, arasseo. Bagaimana keadaan mereka?” tanya Hwayeon lagi.
“Eomma baik-baik saja, sedangkan Appa di rawat di rumah sakit. Beberapa waktu yang lalu ia ditabrak. Pelakunya pun tidak diketahui.” Jelas Taehyung. Taehyung yang melihat rasa bersalah yang muncul di muka Hwayeon pun kembali berkata, “Ah, jangan merasa bersalah lagi. Itu semua sudah berlalu.”
“Ya, kau benar. Sepertinya, kita sedang melewati masa-masa yang sulit. Apalagi kau membantuku untuk menemukan pembunuh kakakku. Aku harap aku bisa membantumu.” Ujar Hwayeon.
“Hmm, kau telah menghabiskan Ramyeon-mu, tidur dikamar itu. Sudah larut.” Pinta Taehyung sambil menunjuk kamar tengah.
“Gomawo. Aku akan tidur dulu,” tutur Hwayeon dengan senyum tulusnya. Taehyung pun tersenyum.
~~~~~

Monday, August 18th 2013_
Terik mentari telah kunjung tiba. Cahaya tajam pun menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamar. Hwayeon pun terbangun, tepat pada pukul enam pagi. Maklum kehidupannya sebagai seorang psikolog membuatnya disiplin, termasuk bangun pagi secara rutin.
‘Apa yang harus kulakukan sekarang?’ tanyanya bingung. ‘Apakah aku harus tidur lagi?’ tanyanya kembali. Pikirannya kembali kosong. Ia tak tahu apa yang akan dilakukannya hari ini, besok, lusa, sampai hari berikutnya selama ia tinggal di rumah temannya itu. ‘Apa yang biasanya dilakukan di pagi hari?’ tanyanya masih kebingungan. ‘Sarapan? Ah ya, membuat sarapan!’ serunya dalam hati. Hwayeon pun beranjak dari tempat tidurnya. Dengan secepat kilat ia mengikat rambut coklatnya. Lalu, seperti niatnya tadi, membuat sarapan.
 “Baiklah, omelette kentang kelihatannya cocok untuk hari ini.” ujar Hwayeon. Bahan-bahan pun siap didepan matanya. Hwayeon pun memulai. Mungkin hwayeon bukanlah pemasak yang handal. Namun, dengan pengalaman memasak setiap harinya, berpadu dengan hobi memasaknya, membuat keahliannya dibidang masak-memasaknya di atas rata-rata. Dengan menggunakan waktu sepuluh menit, Hwayeon bisa menuntaskan menu masakannya itu. Hwayeon pun berencana membangunkan Taehyung.
“Taehyung-sshi! Sudahkah kau bangun?” tanya Hwayeon. Hwayeon yang tidak sabar pun membuka pintu kamar Taehyung. Dilihatnya Tehyung sedang tertidur lelap. Bukan di ranjangnya, melainkan di meja kerjanya. Kaca mata yang kunjung berada di ujung batang hidungnya membuat Hwayeon tertawa geli. Belum lagi mulut Taehyung yang terbuka lebar. Sangat imut.
“Taehyung-sshi!” ujar Hwayeon membangunkan Taehyung. Tak berhasil. Hwayeon pun sedikit menunduk menyejajarkan wajahnya dengan Taehyung. “Kim Taehyung-sshi,” ujar Hwayeon lagi. Taehyung perlahan membuka matanya.
“Oh? Kau... kau disini?” tanya Taehyung bungung sembari merapikan kacamatanya lagi.
“Oh. Kau benar.” Hwayeon kembali menegakkan badannya. “Aku sudah membuatkan sarapan untukmu. Kupikir kau tidur. Jadi, aku membangunkanmu,” ujar Hwayeon. Hwayeon pun memberikan nampan yang berisi makanan untuk Taehyung.
“Oh, Jinjayo? Gomawoyo.” Tutur Taehyung sambil mengambil nampan berisi makanan itu.
“Oh, ne, cheonma.” Papar Hwayeon. Tak lama kemudian, mata hwayeon tamoak terpaku dengan berkas-berkas di meja Taehyung. “Kematian Oh Hwayeong? Apakah kau tidur disini karena mencari tahu penyebab kematian kakakku?” tanya Hwayeon sedukit meninggi. Taehyung pun menggangguk. Hwayeon hanya terdiam. “Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Tapi, kali ini aku merasa tak nyaman. Aku harap aku bisa membantumu.” Tambah Hwayeon. Taehyung pun tampak bersalah kembali. Sejenak ia berpikir. Kemudian Taehyung mengambil beberapa berkas di laci meja. Kemudian mengambil sebuah kursi, dan kembali ke meja kerjanya.
“Baiklah, duduklah terlebih dahulu!” perintah Taehyung. Hwayeon pun menuruti perintah sahabatnya itu. “Kematian Cha Hyesun. 6 april 2013. Kematian Yoo Heejung, 10 Mei 2013. Kematian Oh Hwayeong, kakakmu, 14 Juni 2013. Terakhir, kematian Han Hyemi, 16 Juli. Pembunuhan berantai ini, terjadi setiap bulan. Menurutmu apa motif pembunuhannya?” tanya Taehyung mulai serius.
“Hmmm,,,, memang sedikit rumit. Bisa jadi balas dendam ataupun pelaku aslinya menderita gangguan psikis. Mungkin dendam yang lebih tepat. Tapi,, belum dapat dipastikan.” Balas Hwayeon. Hwayeon yang tampak mengeluarkan gagasan lain di pikirannya, mengambil secarik kertas yang letakknya tidak jauh dari dirinya. Kemudian, mulai menulis sesuatu dan menimbang-nimbang. “Tapi, jika dilihat dengan jelas, semua tanggal ini berjarak empat-empat. Lihatlah! Tanggal 6, tanggal 10, tanggal 14, dan tanggal 18. Bukankah itu aneh?” papar Hwayeon sembari memberikan secarik kertasnya tadi kepada Taehyung. Taehyung menatap kertas itu lekat-lekat dengan memicingkan kedua matanya.
“Kau benar.” Setuju Taehyung. “Menurutmu, pembunuhan selanjutnya akan terjadi pada tanggal...... 22 Agustus nanti?” tanya Taehyung ambisius. Hwayeon mengangguk pelan.
~~~~~

“Annyeong!” sapa Taehyung girang dengan membawa beberapa berkas ditangannya.
“Ahh,, kau sama saja seperti anak-anak.” Ujar Namjoon.
“Apa kau sudah dapat petunjuk baru?” tanya Hoseok memulai percakapan.
“Tentu.” Ujar Taehyung bangga. Semua rekan-rekan kerjanya pun lekas berkumpul di meja Taehyung.
“Cepatlah beritahu kami! Aku tak sabar ingin bertemu pelakunya.” Tutur Yoongi mulai bergairah.
“Sebenarnya bukan petunjuk pasti untuk menemukan pelakunya.” Jelas Taehyung. “Tapi, tidakkah kalian lihat, setiap tanggal dari kasus-kasus ini memiliki jarak empat-empat. 6, 10, 14, 18, semuanya berjarak empat-empat. Menurutku pembunuhan selanjutnya akan berlangsung tanggal 22 Agustus bulan ini.” tambah Taehyung. Semua rekannya menatap lekat-lekas berkas itu. Seolah-olah belum percaya. Namun, teori ini bisa dibilang masuk akal.
“Wahhh!!! Bravo!!!! Bagaimana kau tahu ini semua, hyung?” tanya Jungkook.
“Temanku yang memberitahukan itu. Aku yakin semua ini berhubungan.” Tutur taehyung lagi.
“Taehyung-ie Jjang!!! Aku rasa kita bisa menangkap pelakunya dengan mudah! Aku punya firasat baik tentang ini!” seru Jimin bersemangat.
“Tapi, ada satu hal lagi....” ujar Taehyung serius. “Siapa korban selanjutnya...”

No comments:

Post a Comment