Friday, 18 July 2014

The Black Code 2



Tittle : THE BLACK CODE
Main Cast : Kim Taehyung-김태형 (BTS), Oh Hwayeon-오화연, Kim Junghwan-김정환.
Support Cast : All member BTS.
Genre : Mystery, Crime, Psychology, Romance.
Leight : Chaptered
Author : Fellicia Kim
Inspirated by CSI New York, NCIS, and all of MY DREAM.

Notes : Sebenarnya ni FF Leight-nya ThreeShot, tapi karena pengen buat gereget, leight-nya di ubah jadi chapt....

Disclaimer : THIS FAN-FICTION IS MINE. PLEASE DON’T BE A PLAGIATOR AND BE THE SILENT READERS!
*****

[CHAPTER 2 : U CAN DO IT! CHEER UP, MR. KIM!]

Saturday, August 16th 2013_
“Ah, kau sudah datang hyung!” ujar Jungkook menyapa Taehyung. Taehyung pun duduk di atas meja kerja Jungkook.
“Oh? Kau kira aku akan selalu datang terlambat, eoh?” ujar Taehyung sambil menjitak dongsaeng itu. Jungkook pun mengaduh kesakitan.
“Aisshh! Kau seperti tak mengerti saja! Dia kan sekarang menjadi bos kita!” Girau Namjoon. Taehyung hanya memasang muka malas.
“Aishh!! Aku bukan bermaksud begitu!” ujar Taehyung.
“Jeongmalyo?” tanya Yoongi serius. “Kalau bukan begitu, apa yang kau lakukan?”
“Na?” tanya Taehyung. “Oh, aku ingin pergi ke suatu tempat pagi ini.” balas taehyung santai. Semua rekan kerjanya mulai menatap aneh.
“Apa kau menyukai seseorang?” tanya Hoseok bersemangat. “Aisshh! Ternyata Taehyung kita bisa juga!” goda Hoseok. Namjoon, Yoongi, Jungkook, dan Jimin pun mulai tertawa.
“Ah, bukan begitu! Aku hanya ingin pergi ke psikolog!” bantah taehyung lunak.
“Ah, Jinjayo? Untuk apa kau pergi ke sana?” tanya Yoongi sambil tertawa penuh makna.
“Jangan berpikir yang bukan-bukan! Aku hanya ingin konsultasi dengan psikolog tentang kasus ini. Barangkali, si pembunuh memiliki gangguan,  jadi akan lebih mudah mencari tahu siapa pelakunya!” sergah Taehyung.
“Oh, keurae. Haruskah kau ku daftarkan sekarang juga?” tanya Jimin.
“Tidak usah. Aku sudah mendaftarkannya tadi. Tinggal menunggu giliranku.”  Tanya Taehyung canggung. Jimin hanya mengangguk mengerti. “Ah! aku dengar appa mu masuk rumah sakit. Apa itu benar, eoh?” tanya Jimin.
“Jinjayo? Waeyo?” tanya Namjoon dengan penasaran.
“Oh, ne. Eomma bilang, ia tertabrak. Mungkin dia sudah baik hari ini.” jawab Taehyung.
“Bagaimana dengan pelakunya? Apa sudah tertangkap?”
“Belum. Tenang saja, cepat atau lambat akan ku temukan.”
“Aisshh! Santai sekali!” geram Hoseok. “Aku turut berduka.”
“Ne, jangan kawatirkan. Baiklah, aku pergi dulu. Jangan berbuat macam-macam selama aku pergi. Arasseo?” tegas Taehyung sembari bangkit dari meja Jungkook.
“Arasseo.” Balas mereka serempak.
~~~~~

Alunan musik menggema di apartement seorang yeoja. Piano. Membuat siapa pun luluh mendengarnya. Mandapat penghargaan pemain piano terbaik ganjarannya. Tentu suatu hal yang luar biasa. Mendengar suara dari luar, permainannya pun berhenti. Yeoja itu pun membuka pintunya. Dilihatnya namja berbaju hitam.
“Annyeong haseyo, Apakah anda nona Oh Hwayeon?” tanya seorang pengantar barang.
“Ne. Waeyo?” tanya yeoja yang bernama Hwayeon itu kebingungan.
“Saya mengantarkan barang untuk anda. Dari penggemar rahasiamu.” Ujarnya.
“Oh, ne. Kamsahamnida.” Ujar Hwayeon. Namja itu pun tersenyum kepada Hwayeon dan pergi. Hwayeon pun menutup pintu apartemennya. Ketika Hwayeon hendak membuka kotak dengan pita berwarna merah muda itu, tiba-tiba seseorang pun datang. Hwayeon pun mengurungkan niatnya untuk membuka isi kotak tadi dan membuka pintunya.
“Annyeong, Hwayeon-sshi!” sapa seorang namja yang berdiri tepat beberapa senti didepan Hwayeon.
“K-Kim Taehyung-sshi? Bagaimana bisa kau...” ucap Hwayeon kaget.
“Temanku yang memberitahunya.” Jelas Taehyung singkat. “Tidakkah kau mengizinkan teman lama mu ini masuk?” tanya Taehyung.
“Oh, ne, silakan.” Ujar Hwayeon canggung. Taehyung yang tersenyum pun mengikuti langkah teman lamanya itu sampai tiba diruang tengahnya. “Silakan duduk. Aku akan mengambilkan minuman untukmu.” Tambah Hwayeon.
“Oh, ne.” Tutur Taehyun. Taehyung pun melihat apertemen yang ditinggali teman lamanya hingga Hwayeon kembali membawa minuman.
“Igeo, minumlah dulu.” Pinta Hwayeon. Taehyung pun meminum minumannya.
“Sudah lama, ne?” Ujar taehyung memulai percakapan.
“Ne.” Balas Hwayeon gugup. “Apa yang kau lakukan disini?”
“Kudengar kau sekarang seorang psikolog.” Ujar Taehyung.
“Ne.” Hwayeon menghembuskan nafas berat.
“Sebenarnya aku adalah detektif.”
“Lalu?”
“Aku punya kasus. Kasus tersulit.”
“Sesulit apa itu?” tanya Hwayeon.
“Hmm, lebih sulit dari pada Yang Jin Ri.”
“Yang Jin Ri?” tanya Hwayeon. “Apakah sesulit itu?” tanyanya lagi.
“Ya, kau tahu kan, kasus Yang Jin Ri memang ganas. Tapi, setidaknya kita tahu pelakunya. Beda dengan kasus ini.” tutur Taehyung mulai serius.
“Seperti apakah  kasus itu?”
“Kasus pembunuhan berantai. Apakah menurutmu pelakunya punya gangguan kejiwaan atau sejenisnya” Jelas Taehyung.
Kematian Cha Hyesun tanggal 6 April, Kematian Yoo Heejung tanggal 10 Mei, Kematian Oh Hwayeong tanggal 14 Juni, dan kematian Han Hyemi tanggal 18 Juli. Apakah itu yang kau anggap pembunuhan berantai?” tanya Hwayeon dengan senyum sinisnya.
“Bagaimana kau tahu?” tanya taehyung kebingungan.
“Aku Oh Hwayeon, dan kakakku Oh Hwayeong yang meninggal. Bagaimana aku tidak tahu desas-desus tentang kematiannya.” Jelas Hwayeon tajam. Taehyung merasa bersalah.
“Ah, mianhae. Aku tak tahu kau adiknya. Aku turut berduka,” ujar Taehyung menyesal.
“Tak masalah. Aku juga ingin kasus ini dituntaskan dengan cepat, sehingga aku tahu siapa pelakunya. Aku juga beruntung kau yang menyelidikinya.” Ujar Hwayeon.
“Baiklah, aku akan usahakan yang terbaik,” tegas Taehyung. Taehyung pun melihat arloginya. Pukul dua belas. “Ah, waktu berjalan cepat. Aku harus kembali ke kantor.” Ujar Taehyung.
“Ah, ne, keurae. Berhati-hatilah!” ingat Hwayeon.
“Ne. Lain kali, mungkin aku akan kemari lagi membahas soal kematian kakakmu, ne?”
“Oh, arasseo.” Paham Hwayeon. Taehyung pun pamit dan pergi. Hwayeon hanya menatap teman lamanya yang kian menghilang. Hwayeon pun menutup pintunya. Ketika hendak berbalik, pinggang rampingnya membuat kotak berpita merah muda tadi terjatuh. Hwayeon mencoba mengambilnya dan.........
“Arrgghhh!!!!!!!!!!”

-TO BE CONTINUED-

No comments:

Post a Comment