Tittle
: THE
BLACK CODE
Main Cast : Kim Taehyung-김태형 (BTS), Oh Hwayeon-오화연, Kim Junghwan-김정환.
Support Cast : All member BTS.
Genre : Mystery, Crime, Psychology, Romance.
Leight : Chaptered
Author : Fellicia Kim
Disclaimer : THIS FF IS MINE. NO
PLAGIARISM, NO SILENT READER, & NO BASH.
*****
[CHAPTER 3 : IT MUST!]
Sunday, August 17th 2013_
“Annyeong haseyo!”
Ujar taehyung sembari mengetuk pintu apartement Hwayeon. “Hwayeon-sshi! Apakah
kau ada didalam?” tanya Taehyung yang masih mengetuk. Tidak ada jawaban.
“Hwayeon-sshi! Oh Hwayeon-sshi! Apakah kau ada di dalam?” tanya Taehyung mulai
cemas. Taehyung yang panik pun mencoba membuka pintu apartemen yeoja itu. Tak
dikunci. Dengan memberanikan diri, Taehyung pun masuk ke dalam.
“Hwayeon-sshi! Apa kau
baik-baik saja?” tanya Taehyung sambil melangkah pelan. Tiba-tiba, Tahyung
merasa ada yang mengganjal di kakinya. Taehyung pun melirik ke bawah.
Dilihatnya Hwayeon terbujur lemah di atas lantai.
“Hwayeon?” ujar
Taehyung. Perasaan Taehyung kini bercampur melihat yeoja yang sampai sekarang
masih ia cintai ini. Disamping Hwayeon, dilihatnya kotak berpita merah muda
yang didalamnya terdapat boneka yang tertusuk pisau kecil. Sepertinya, Taehyung
mengerti apa yang telah terjadi. Dengan tulus, Taehyung merangkul tubuh Hwayeon
dan membaringkannya di sebuah sofa. Tak lupa juga ia membakar boneka itu
beserta kotak-kotaknya. Ia tak ingin Hwayeon yang sudah sadar akan pingsan lagi
jika melihat boneka itu. Taehyung yang masih cemas dengan keadaan Hwayeon memutuskan
menjaganya, hingga Hwayeon sadar.
“Taehyung?” ujar
Hwayeon melihat keadaan temannya yang duduk disampingnya itu. Seberkas kejadian
buruk itu pun melintas dikepalanya. “Taehyung! Orang itu! Dia ingin
membunuhku!” pekik Hwayeon kepada Taehyung. Mata Hwayeon pun kini berkaca-kaca.
“Aku takut.”
“Aku tahu.” Ujar
Taehyung sembari menghenbuskan nafas beratnya. Taehyung pun memeluk tubuh gadis
itu. “Tenang, aku akan melindungimu.” Jelas Taehyung.
“Gomawo.” Ujar Hwayeon
gembira. Taehyung tersenyum.
“Baiklah, aku pergi
dulu. Langit mulai gelap. Istirahatlah dulu, besok aku akan kembali kesini,”
tambah Taehyung.
“Taehyung-ah! Jangan
tinggalkan aku! Aku takut!” mata Hwayeon mulai berkaca lagi. Taehyung tampak
menimbang-nimbang.
“Baiklah. Kau bisa
menginap di apartemenku beberapa hari.” Ujar Taehyung. Hwayeon tampak gembira.
Setidaknya ia tidak tinggal di malam hari sendirian.
~~~~~
“Wah! Apakah kau
tinggal di tempat seluas ini?” tanya Hwayeon kagum.
“Ne, kau benar,” ujar
Taehyung sambil mengambil dua kaleng minuman dan dua cup Ramyeon instan.
Taehyung pun memberikan salah satu Ramyeon-nya dan kaleng minuman kepada
Hwayeon.
“Oh, gomawo,” ujar
Hwayeon. “Hmm, kulihat disini ada tiga kamar. Ada yang tinggal disini
bersamamu?” tanya Hwayeon penasaran sambil mencicipi Ramyeon-nya.
“Ani, hanya aku. Tapi
terkadang teman-temanku juga menginap disini.” Jawab taehyung santai. Hwayeon
tampak memikirkan sesuatu.
“Bagaimana dengan
kedua orang tuamu? Tidakkah dia tinggal disini?” tanya Hwayeon.
“Eoh? Hmm, kami sudah
lama berpisah.” Ujar Taehyung singkat. Hwayeon terdiam. “Masalahnya ringan.
Appa ingin aku menjadi dokter, sementara aku ingin menjadi detektif.” Jelas
Taehyung.
“Oh, kau sudah
berpisah rupanya. Mianhae, aku sangat penasaran.” Sesal Hwayeon.
“Ani, aku sudah biasa.
Ini semua keputusanku. Aku ingin aku bahagia menjadi detektif. bukan menjadi
dokter.”
“Ah, arasseo.
Bagaimana keadaan mereka?” tanya Hwayeon lagi.
“Eomma baik-baik saja,
sedangkan Appa di rawat di rumah sakit. Beberapa waktu yang lalu ia ditabrak.
Pelakunya pun tidak diketahui.” Jelas Taehyung. Taehyung yang melihat rasa
bersalah yang muncul di muka Hwayeon pun kembali berkata, “Ah, jangan merasa
bersalah lagi. Itu semua sudah berlalu.”
“Ya, kau benar.
Sepertinya, kita sedang melewati masa-masa yang sulit. Apalagi kau membantuku
untuk menemukan pembunuh kakakku. Aku harap aku bisa membantumu.” Ujar Hwayeon.
“Hmm, kau telah
menghabiskan Ramyeon-mu, tidur dikamar itu. Sudah larut.” Pinta Taehyung sambil
menunjuk kamar tengah.
“Gomawo. Aku akan
tidur dulu,” tutur Hwayeon dengan senyum tulusnya. Taehyung pun tersenyum.
~~~~~
Monday, August 18th 2013_
Terik mentari telah
kunjung tiba. Cahaya tajam pun menerobos masuk melalui celah-celah jendela
kamar. Hwayeon pun terbangun, tepat pada pukul enam pagi. Maklum kehidupannya
sebagai seorang psikolog membuatnya disiplin, termasuk bangun pagi secara
rutin.
‘Apa yang harus
kulakukan sekarang?’ tanyanya bingung. ‘Apakah aku harus tidur lagi?’ tanyanya
kembali. Pikirannya kembali kosong. Ia tak tahu apa yang akan dilakukannya hari
ini, besok, lusa, sampai hari berikutnya selama ia tinggal di rumah temannya
itu. ‘Apa yang biasanya dilakukan di pagi hari?’ tanyanya masih kebingungan.
‘Sarapan? Ah ya, membuat sarapan!’ serunya dalam hati. Hwayeon pun beranjak
dari tempat tidurnya. Dengan secepat kilat ia mengikat rambut coklatnya. Lalu,
seperti niatnya tadi, membuat sarapan.
“Baiklah, omelette kentang kelihatannya cocok
untuk hari ini.” ujar Hwayeon. Bahan-bahan pun siap didepan matanya. Hwayeon
pun memulai. Mungkin hwayeon bukanlah pemasak yang handal. Namun, dengan
pengalaman memasak setiap harinya, berpadu dengan hobi memasaknya, membuat
keahliannya dibidang masak-memasaknya di atas rata-rata. Dengan menggunakan
waktu sepuluh menit, Hwayeon bisa menuntaskan menu masakannya itu. Hwayeon pun
berencana membangunkan Taehyung.
“Taehyung-sshi!
Sudahkah kau bangun?” tanya Hwayeon. Hwayeon yang tidak sabar pun membuka pintu
kamar Taehyung. Dilihatnya Tehyung sedang tertidur lelap. Bukan di ranjangnya,
melainkan di meja kerjanya. Kaca mata yang kunjung berada di ujung batang
hidungnya membuat Hwayeon tertawa geli. Belum lagi mulut Taehyung yang terbuka
lebar. Sangat imut.
“Taehyung-sshi!” ujar
Hwayeon membangunkan Taehyung. Tak berhasil. Hwayeon pun sedikit menunduk
menyejajarkan wajahnya dengan Taehyung. “Kim Taehyung-sshi,” ujar Hwayeon lagi.
Taehyung perlahan membuka matanya.
“Oh? Kau... kau
disini?” tanya Taehyung bungung sembari merapikan kacamatanya lagi.
“Oh. Kau benar.”
Hwayeon kembali menegakkan badannya. “Aku sudah membuatkan sarapan untukmu.
Kupikir kau tidur. Jadi, aku membangunkanmu,” ujar Hwayeon. Hwayeon pun
memberikan nampan yang berisi makanan untuk Taehyung.
“Oh, Jinjayo?
Gomawoyo.” Tutur Taehyung sambil mengambil nampan berisi makanan itu.
“Oh, ne, cheonma.”
Papar Hwayeon. Tak lama kemudian, mata hwayeon tamoak terpaku dengan
berkas-berkas di meja Taehyung. “Kematian Oh Hwayeong? Apakah kau tidur disini karena
mencari tahu penyebab kematian kakakku?” tanya Hwayeon sedukit meninggi.
Taehyung pun menggangguk. Hwayeon hanya terdiam. “Aku tak tahu apa yang harus
kulakukan. Tapi, kali ini aku merasa tak nyaman. Aku harap aku bisa
membantumu.” Tambah Hwayeon. Taehyung pun tampak bersalah kembali. Sejenak ia
berpikir. Kemudian Taehyung mengambil beberapa berkas di laci meja. Kemudian
mengambil sebuah kursi, dan kembali ke meja kerjanya.
“Baiklah, duduklah
terlebih dahulu!” perintah Taehyung. Hwayeon pun menuruti perintah sahabatnya
itu. “Kematian Cha Hyesun. 6
april 2013. Kematian Yoo Heejung, 10 Mei 2013. Kematian Oh Hwayeong, kakakmu,
14 Juni 2013. Terakhir, kematian Han Hyemi, 16 Juli. Pembunuhan berantai ini,
terjadi setiap bulan. Menurutmu apa motif pembunuhannya?” tanya Taehyung mulai
serius.
“Hmmm,,,, memang sedikit rumit. Bisa jadi balas dendam ataupun pelaku
aslinya menderita gangguan psikis. Mungkin dendam yang lebih tepat. Tapi,,
belum dapat dipastikan.” Balas Hwayeon. Hwayeon yang tampak mengeluarkan gagasan
lain di pikirannya, mengambil secarik kertas yang letakknya tidak jauh dari
dirinya. Kemudian, mulai menulis sesuatu dan menimbang-nimbang. “Tapi, jika
dilihat dengan jelas, semua tanggal ini berjarak empat-empat. Lihatlah! Tanggal
6, tanggal 10, tanggal 14, dan tanggal 18. Bukankah itu aneh?” papar Hwayeon
sembari memberikan secarik kertasnya tadi kepada Taehyung. Taehyung menatap
kertas itu lekat-lekat dengan memicingkan kedua matanya.
“Kau benar.” Setuju Taehyung. “Menurutmu, pembunuhan selanjutnya akan
terjadi pada tanggal...... 22 Agustus nanti?” tanya Taehyung ambisius. Hwayeon
mengangguk pelan.
~~~~~
“Annyeong!” sapa Taehyung girang dengan membawa beberapa berkas
ditangannya.
“Ahh,, kau sama saja seperti anak-anak.” Ujar Namjoon.
“Apa kau sudah dapat petunjuk baru?” tanya Hoseok memulai percakapan.
“Tentu.” Ujar Taehyung bangga. Semua rekan-rekan kerjanya pun lekas
berkumpul di meja Taehyung.
“Cepatlah beritahu kami! Aku tak sabar ingin bertemu pelakunya.” Tutur
Yoongi mulai bergairah.
“Sebenarnya bukan petunjuk pasti untuk menemukan pelakunya.” Jelas
Taehyung. “Tapi, tidakkah kalian lihat, setiap tanggal dari kasus-kasus ini
memiliki jarak empat-empat. 6, 10, 14, 18, semuanya berjarak empat-empat.
Menurutku pembunuhan selanjutnya akan berlangsung tanggal 22 Agustus bulan
ini.” tambah Taehyung. Semua rekannya menatap lekat-lekas berkas itu.
Seolah-olah belum percaya. Namun, teori ini bisa dibilang masuk akal.
“Wahhh!!! Bravo!!!! Bagaimana kau tahu ini semua, hyung?” tanya Jungkook.
“Temanku yang memberitahukan itu. Aku yakin semua ini berhubungan.” Tutur
taehyung lagi.
“Taehyung-ie Jjang!!! Aku rasa kita bisa menangkap pelakunya dengan mudah!
Aku punya firasat baik tentang ini!” seru Jimin bersemangat.
“Tapi, ada satu hal lagi....” ujar Taehyung serius. “Siapa korban
selanjutnya...”