Friday, 18 July 2014

The Black Code 3



Tittle : THE BLACK CODE
Main Cast : Kim Taehyung-김태형 (BTS), Oh Hwayeon-오화연, Kim Junghwan-김정환.
Support Cast : All member BTS.
Genre : Mystery, Crime, Psychology, Romance.
Leight : Chaptered
Author : Fellicia Kim 

Disclaimer : THIS FF IS MINE. NO PLAGIARISM, NO SILENT READER, & NO BASH.
*****

[CHAPTER 3 : IT MUST!]

Sunday, August 17th 2013_
“Annyeong haseyo!” Ujar taehyung sembari mengetuk pintu apartement Hwayeon. “Hwayeon-sshi! Apakah kau ada didalam?” tanya Taehyung yang masih mengetuk. Tidak ada jawaban. “Hwayeon-sshi! Oh Hwayeon-sshi! Apakah kau ada di dalam?” tanya Taehyung mulai cemas. Taehyung yang panik pun mencoba membuka pintu apartemen yeoja itu. Tak dikunci. Dengan memberanikan diri, Taehyung pun masuk ke dalam.
“Hwayeon-sshi! Apa kau baik-baik saja?” tanya Taehyung sambil melangkah pelan. Tiba-tiba, Tahyung merasa ada yang mengganjal di kakinya. Taehyung pun melirik ke bawah. Dilihatnya Hwayeon terbujur lemah di atas lantai.
“Hwayeon?” ujar Taehyung. Perasaan Taehyung kini bercampur melihat yeoja yang sampai sekarang masih ia cintai ini. Disamping Hwayeon, dilihatnya kotak berpita merah muda yang didalamnya terdapat boneka yang tertusuk pisau kecil. Sepertinya, Taehyung mengerti apa yang telah terjadi. Dengan tulus, Taehyung merangkul tubuh Hwayeon dan membaringkannya di sebuah sofa. Tak lupa juga ia membakar boneka itu beserta kotak-kotaknya. Ia tak ingin Hwayeon yang sudah sadar akan pingsan lagi jika melihat boneka itu. Taehyung yang masih cemas dengan keadaan Hwayeon memutuskan menjaganya, hingga Hwayeon sadar.
“Taehyung?” ujar Hwayeon melihat keadaan temannya yang duduk disampingnya itu. Seberkas kejadian buruk itu pun melintas dikepalanya. “Taehyung! Orang itu! Dia ingin membunuhku!” pekik Hwayeon kepada Taehyung. Mata Hwayeon pun kini berkaca-kaca. “Aku takut.”
“Aku tahu.” Ujar Taehyung sembari menghenbuskan nafas beratnya. Taehyung pun memeluk tubuh gadis itu. “Tenang, aku akan melindungimu.” Jelas Taehyung.
“Gomawo.” Ujar Hwayeon gembira. Taehyung tersenyum.
“Baiklah, aku pergi dulu. Langit mulai gelap. Istirahatlah dulu, besok aku akan kembali kesini,” tambah Taehyung.
“Taehyung-ah! Jangan tinggalkan aku! Aku takut!” mata Hwayeon mulai berkaca lagi. Taehyung tampak menimbang-nimbang.
“Baiklah. Kau bisa menginap di apartemenku beberapa hari.” Ujar Taehyung. Hwayeon tampak gembira. Setidaknya ia tidak tinggal di malam hari sendirian.
~~~~~
“Wah! Apakah kau tinggal di tempat seluas ini?” tanya Hwayeon kagum.
“Ne, kau benar,” ujar Taehyung sambil mengambil dua kaleng minuman dan dua cup Ramyeon instan. Taehyung pun memberikan salah satu Ramyeon-nya dan kaleng minuman kepada Hwayeon.
“Oh, gomawo,” ujar Hwayeon. “Hmm, kulihat disini ada tiga kamar. Ada yang tinggal disini bersamamu?” tanya Hwayeon penasaran sambil mencicipi Ramyeon-nya.
“Ani, hanya aku. Tapi terkadang teman-temanku juga menginap disini.” Jawab taehyung santai. Hwayeon tampak memikirkan sesuatu.
“Bagaimana dengan kedua orang tuamu? Tidakkah dia tinggal disini?” tanya Hwayeon.
“Eoh? Hmm, kami sudah lama berpisah.” Ujar Taehyung singkat. Hwayeon terdiam. “Masalahnya ringan. Appa ingin aku menjadi dokter, sementara aku ingin menjadi detektif.” Jelas Taehyung.
“Oh, kau sudah berpisah rupanya. Mianhae, aku sangat penasaran.” Sesal Hwayeon.
“Ani, aku sudah biasa. Ini semua keputusanku. Aku ingin aku bahagia menjadi detektif. bukan menjadi dokter.”
“Ah, arasseo. Bagaimana keadaan mereka?” tanya Hwayeon lagi.
“Eomma baik-baik saja, sedangkan Appa di rawat di rumah sakit. Beberapa waktu yang lalu ia ditabrak. Pelakunya pun tidak diketahui.” Jelas Taehyung. Taehyung yang melihat rasa bersalah yang muncul di muka Hwayeon pun kembali berkata, “Ah, jangan merasa bersalah lagi. Itu semua sudah berlalu.”
“Ya, kau benar. Sepertinya, kita sedang melewati masa-masa yang sulit. Apalagi kau membantuku untuk menemukan pembunuh kakakku. Aku harap aku bisa membantumu.” Ujar Hwayeon.
“Hmm, kau telah menghabiskan Ramyeon-mu, tidur dikamar itu. Sudah larut.” Pinta Taehyung sambil menunjuk kamar tengah.
“Gomawo. Aku akan tidur dulu,” tutur Hwayeon dengan senyum tulusnya. Taehyung pun tersenyum.
~~~~~

Monday, August 18th 2013_
Terik mentari telah kunjung tiba. Cahaya tajam pun menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamar. Hwayeon pun terbangun, tepat pada pukul enam pagi. Maklum kehidupannya sebagai seorang psikolog membuatnya disiplin, termasuk bangun pagi secara rutin.
‘Apa yang harus kulakukan sekarang?’ tanyanya bingung. ‘Apakah aku harus tidur lagi?’ tanyanya kembali. Pikirannya kembali kosong. Ia tak tahu apa yang akan dilakukannya hari ini, besok, lusa, sampai hari berikutnya selama ia tinggal di rumah temannya itu. ‘Apa yang biasanya dilakukan di pagi hari?’ tanyanya masih kebingungan. ‘Sarapan? Ah ya, membuat sarapan!’ serunya dalam hati. Hwayeon pun beranjak dari tempat tidurnya. Dengan secepat kilat ia mengikat rambut coklatnya. Lalu, seperti niatnya tadi, membuat sarapan.
 “Baiklah, omelette kentang kelihatannya cocok untuk hari ini.” ujar Hwayeon. Bahan-bahan pun siap didepan matanya. Hwayeon pun memulai. Mungkin hwayeon bukanlah pemasak yang handal. Namun, dengan pengalaman memasak setiap harinya, berpadu dengan hobi memasaknya, membuat keahliannya dibidang masak-memasaknya di atas rata-rata. Dengan menggunakan waktu sepuluh menit, Hwayeon bisa menuntaskan menu masakannya itu. Hwayeon pun berencana membangunkan Taehyung.
“Taehyung-sshi! Sudahkah kau bangun?” tanya Hwayeon. Hwayeon yang tidak sabar pun membuka pintu kamar Taehyung. Dilihatnya Tehyung sedang tertidur lelap. Bukan di ranjangnya, melainkan di meja kerjanya. Kaca mata yang kunjung berada di ujung batang hidungnya membuat Hwayeon tertawa geli. Belum lagi mulut Taehyung yang terbuka lebar. Sangat imut.
“Taehyung-sshi!” ujar Hwayeon membangunkan Taehyung. Tak berhasil. Hwayeon pun sedikit menunduk menyejajarkan wajahnya dengan Taehyung. “Kim Taehyung-sshi,” ujar Hwayeon lagi. Taehyung perlahan membuka matanya.
“Oh? Kau... kau disini?” tanya Taehyung bungung sembari merapikan kacamatanya lagi.
“Oh. Kau benar.” Hwayeon kembali menegakkan badannya. “Aku sudah membuatkan sarapan untukmu. Kupikir kau tidur. Jadi, aku membangunkanmu,” ujar Hwayeon. Hwayeon pun memberikan nampan yang berisi makanan untuk Taehyung.
“Oh, Jinjayo? Gomawoyo.” Tutur Taehyung sambil mengambil nampan berisi makanan itu.
“Oh, ne, cheonma.” Papar Hwayeon. Tak lama kemudian, mata hwayeon tamoak terpaku dengan berkas-berkas di meja Taehyung. “Kematian Oh Hwayeong? Apakah kau tidur disini karena mencari tahu penyebab kematian kakakku?” tanya Hwayeon sedukit meninggi. Taehyung pun menggangguk. Hwayeon hanya terdiam. “Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Tapi, kali ini aku merasa tak nyaman. Aku harap aku bisa membantumu.” Tambah Hwayeon. Taehyung pun tampak bersalah kembali. Sejenak ia berpikir. Kemudian Taehyung mengambil beberapa berkas di laci meja. Kemudian mengambil sebuah kursi, dan kembali ke meja kerjanya.
“Baiklah, duduklah terlebih dahulu!” perintah Taehyung. Hwayeon pun menuruti perintah sahabatnya itu. “Kematian Cha Hyesun. 6 april 2013. Kematian Yoo Heejung, 10 Mei 2013. Kematian Oh Hwayeong, kakakmu, 14 Juni 2013. Terakhir, kematian Han Hyemi, 16 Juli. Pembunuhan berantai ini, terjadi setiap bulan. Menurutmu apa motif pembunuhannya?” tanya Taehyung mulai serius.
“Hmmm,,,, memang sedikit rumit. Bisa jadi balas dendam ataupun pelaku aslinya menderita gangguan psikis. Mungkin dendam yang lebih tepat. Tapi,, belum dapat dipastikan.” Balas Hwayeon. Hwayeon yang tampak mengeluarkan gagasan lain di pikirannya, mengambil secarik kertas yang letakknya tidak jauh dari dirinya. Kemudian, mulai menulis sesuatu dan menimbang-nimbang. “Tapi, jika dilihat dengan jelas, semua tanggal ini berjarak empat-empat. Lihatlah! Tanggal 6, tanggal 10, tanggal 14, dan tanggal 18. Bukankah itu aneh?” papar Hwayeon sembari memberikan secarik kertasnya tadi kepada Taehyung. Taehyung menatap kertas itu lekat-lekat dengan memicingkan kedua matanya.
“Kau benar.” Setuju Taehyung. “Menurutmu, pembunuhan selanjutnya akan terjadi pada tanggal...... 22 Agustus nanti?” tanya Taehyung ambisius. Hwayeon mengangguk pelan.
~~~~~

“Annyeong!” sapa Taehyung girang dengan membawa beberapa berkas ditangannya.
“Ahh,, kau sama saja seperti anak-anak.” Ujar Namjoon.
“Apa kau sudah dapat petunjuk baru?” tanya Hoseok memulai percakapan.
“Tentu.” Ujar Taehyung bangga. Semua rekan-rekan kerjanya pun lekas berkumpul di meja Taehyung.
“Cepatlah beritahu kami! Aku tak sabar ingin bertemu pelakunya.” Tutur Yoongi mulai bergairah.
“Sebenarnya bukan petunjuk pasti untuk menemukan pelakunya.” Jelas Taehyung. “Tapi, tidakkah kalian lihat, setiap tanggal dari kasus-kasus ini memiliki jarak empat-empat. 6, 10, 14, 18, semuanya berjarak empat-empat. Menurutku pembunuhan selanjutnya akan berlangsung tanggal 22 Agustus bulan ini.” tambah Taehyung. Semua rekannya menatap lekat-lekas berkas itu. Seolah-olah belum percaya. Namun, teori ini bisa dibilang masuk akal.
“Wahhh!!! Bravo!!!! Bagaimana kau tahu ini semua, hyung?” tanya Jungkook.
“Temanku yang memberitahukan itu. Aku yakin semua ini berhubungan.” Tutur taehyung lagi.
“Taehyung-ie Jjang!!! Aku rasa kita bisa menangkap pelakunya dengan mudah! Aku punya firasat baik tentang ini!” seru Jimin bersemangat.
“Tapi, ada satu hal lagi....” ujar Taehyung serius. “Siapa korban selanjutnya...”

The Black Code 2



Tittle : THE BLACK CODE
Main Cast : Kim Taehyung-김태형 (BTS), Oh Hwayeon-오화연, Kim Junghwan-김정환.
Support Cast : All member BTS.
Genre : Mystery, Crime, Psychology, Romance.
Leight : Chaptered
Author : Fellicia Kim
Inspirated by CSI New York, NCIS, and all of MY DREAM.

Notes : Sebenarnya ni FF Leight-nya ThreeShot, tapi karena pengen buat gereget, leight-nya di ubah jadi chapt....

Disclaimer : THIS FAN-FICTION IS MINE. PLEASE DON’T BE A PLAGIATOR AND BE THE SILENT READERS!
*****

[CHAPTER 2 : U CAN DO IT! CHEER UP, MR. KIM!]

Saturday, August 16th 2013_
“Ah, kau sudah datang hyung!” ujar Jungkook menyapa Taehyung. Taehyung pun duduk di atas meja kerja Jungkook.
“Oh? Kau kira aku akan selalu datang terlambat, eoh?” ujar Taehyung sambil menjitak dongsaeng itu. Jungkook pun mengaduh kesakitan.
“Aisshh! Kau seperti tak mengerti saja! Dia kan sekarang menjadi bos kita!” Girau Namjoon. Taehyung hanya memasang muka malas.
“Aishh!! Aku bukan bermaksud begitu!” ujar Taehyung.
“Jeongmalyo?” tanya Yoongi serius. “Kalau bukan begitu, apa yang kau lakukan?”
“Na?” tanya Taehyung. “Oh, aku ingin pergi ke suatu tempat pagi ini.” balas taehyung santai. Semua rekan kerjanya mulai menatap aneh.
“Apa kau menyukai seseorang?” tanya Hoseok bersemangat. “Aisshh! Ternyata Taehyung kita bisa juga!” goda Hoseok. Namjoon, Yoongi, Jungkook, dan Jimin pun mulai tertawa.
“Ah, bukan begitu! Aku hanya ingin pergi ke psikolog!” bantah taehyung lunak.
“Ah, Jinjayo? Untuk apa kau pergi ke sana?” tanya Yoongi sambil tertawa penuh makna.
“Jangan berpikir yang bukan-bukan! Aku hanya ingin konsultasi dengan psikolog tentang kasus ini. Barangkali, si pembunuh memiliki gangguan,  jadi akan lebih mudah mencari tahu siapa pelakunya!” sergah Taehyung.
“Oh, keurae. Haruskah kau ku daftarkan sekarang juga?” tanya Jimin.
“Tidak usah. Aku sudah mendaftarkannya tadi. Tinggal menunggu giliranku.”  Tanya Taehyung canggung. Jimin hanya mengangguk mengerti. “Ah! aku dengar appa mu masuk rumah sakit. Apa itu benar, eoh?” tanya Jimin.
“Jinjayo? Waeyo?” tanya Namjoon dengan penasaran.
“Oh, ne. Eomma bilang, ia tertabrak. Mungkin dia sudah baik hari ini.” jawab Taehyung.
“Bagaimana dengan pelakunya? Apa sudah tertangkap?”
“Belum. Tenang saja, cepat atau lambat akan ku temukan.”
“Aisshh! Santai sekali!” geram Hoseok. “Aku turut berduka.”
“Ne, jangan kawatirkan. Baiklah, aku pergi dulu. Jangan berbuat macam-macam selama aku pergi. Arasseo?” tegas Taehyung sembari bangkit dari meja Jungkook.
“Arasseo.” Balas mereka serempak.
~~~~~

Alunan musik menggema di apartement seorang yeoja. Piano. Membuat siapa pun luluh mendengarnya. Mandapat penghargaan pemain piano terbaik ganjarannya. Tentu suatu hal yang luar biasa. Mendengar suara dari luar, permainannya pun berhenti. Yeoja itu pun membuka pintunya. Dilihatnya namja berbaju hitam.
“Annyeong haseyo, Apakah anda nona Oh Hwayeon?” tanya seorang pengantar barang.
“Ne. Waeyo?” tanya yeoja yang bernama Hwayeon itu kebingungan.
“Saya mengantarkan barang untuk anda. Dari penggemar rahasiamu.” Ujarnya.
“Oh, ne. Kamsahamnida.” Ujar Hwayeon. Namja itu pun tersenyum kepada Hwayeon dan pergi. Hwayeon pun menutup pintu apartemennya. Ketika Hwayeon hendak membuka kotak dengan pita berwarna merah muda itu, tiba-tiba seseorang pun datang. Hwayeon pun mengurungkan niatnya untuk membuka isi kotak tadi dan membuka pintunya.
“Annyeong, Hwayeon-sshi!” sapa seorang namja yang berdiri tepat beberapa senti didepan Hwayeon.
“K-Kim Taehyung-sshi? Bagaimana bisa kau...” ucap Hwayeon kaget.
“Temanku yang memberitahunya.” Jelas Taehyung singkat. “Tidakkah kau mengizinkan teman lama mu ini masuk?” tanya Taehyung.
“Oh, ne, silakan.” Ujar Hwayeon canggung. Taehyung yang tersenyum pun mengikuti langkah teman lamanya itu sampai tiba diruang tengahnya. “Silakan duduk. Aku akan mengambilkan minuman untukmu.” Tambah Hwayeon.
“Oh, ne.” Tutur Taehyun. Taehyung pun melihat apertemen yang ditinggali teman lamanya hingga Hwayeon kembali membawa minuman.
“Igeo, minumlah dulu.” Pinta Hwayeon. Taehyung pun meminum minumannya.
“Sudah lama, ne?” Ujar taehyung memulai percakapan.
“Ne.” Balas Hwayeon gugup. “Apa yang kau lakukan disini?”
“Kudengar kau sekarang seorang psikolog.” Ujar Taehyung.
“Ne.” Hwayeon menghembuskan nafas berat.
“Sebenarnya aku adalah detektif.”
“Lalu?”
“Aku punya kasus. Kasus tersulit.”
“Sesulit apa itu?” tanya Hwayeon.
“Hmm, lebih sulit dari pada Yang Jin Ri.”
“Yang Jin Ri?” tanya Hwayeon. “Apakah sesulit itu?” tanyanya lagi.
“Ya, kau tahu kan, kasus Yang Jin Ri memang ganas. Tapi, setidaknya kita tahu pelakunya. Beda dengan kasus ini.” tutur Taehyung mulai serius.
“Seperti apakah  kasus itu?”
“Kasus pembunuhan berantai. Apakah menurutmu pelakunya punya gangguan kejiwaan atau sejenisnya” Jelas Taehyung.
Kematian Cha Hyesun tanggal 6 April, Kematian Yoo Heejung tanggal 10 Mei, Kematian Oh Hwayeong tanggal 14 Juni, dan kematian Han Hyemi tanggal 18 Juli. Apakah itu yang kau anggap pembunuhan berantai?” tanya Hwayeon dengan senyum sinisnya.
“Bagaimana kau tahu?” tanya taehyung kebingungan.
“Aku Oh Hwayeon, dan kakakku Oh Hwayeong yang meninggal. Bagaimana aku tidak tahu desas-desus tentang kematiannya.” Jelas Hwayeon tajam. Taehyung merasa bersalah.
“Ah, mianhae. Aku tak tahu kau adiknya. Aku turut berduka,” ujar Taehyung menyesal.
“Tak masalah. Aku juga ingin kasus ini dituntaskan dengan cepat, sehingga aku tahu siapa pelakunya. Aku juga beruntung kau yang menyelidikinya.” Ujar Hwayeon.
“Baiklah, aku akan usahakan yang terbaik,” tegas Taehyung. Taehyung pun melihat arloginya. Pukul dua belas. “Ah, waktu berjalan cepat. Aku harus kembali ke kantor.” Ujar Taehyung.
“Ah, ne, keurae. Berhati-hatilah!” ingat Hwayeon.
“Ne. Lain kali, mungkin aku akan kemari lagi membahas soal kematian kakakmu, ne?”
“Oh, arasseo.” Paham Hwayeon. Taehyung pun pamit dan pergi. Hwayeon hanya menatap teman lamanya yang kian menghilang. Hwayeon pun menutup pintunya. Ketika hendak berbalik, pinggang rampingnya membuat kotak berpita merah muda tadi terjatuh. Hwayeon mencoba mengambilnya dan.........
“Arrgghhh!!!!!!!!!!”

-TO BE CONTINUED-

The Black Code 1



Tittle : THE BLACK CODE
Main Cast : Kim Taehyung-김태형 (BTS), Oh Hwayeon-오화연, Kim Junghwan-김정환.
Support Cast : All member BTS.
Genre : Mystery, Crime, Psychology, Romance.
Leight : Chaptered
Author : Fellicia Kim 

Inspirated by CSI New York, NCIS, and all of MY DREAM.

Notes : Sebenarnya ni FF Leight-nya ThreeShot, tapi karena pengen buat gereget, leight-nya di ubah jadi chapt....

Disclaimer : THIS FAN-FICTION IS MINE. PLEASE DON’T BE A PLAGIATOR AND BE THE SILENT READERS!
*****

PROLOG

Cinta itu memang buta. Dan terkadang kita dibutakan olehnya. Bukan membuat mata kita tak dapat melihat lagi. Tapi membuat kita melakukan segalanya untuk meraihnya.
Terkadang kita yang belum merasakan ‘cinta’, merasa aneh mendengarkan berbagai kasus yang mengerikan yang disebabkan oleh ‘cinta’. Bisa kita lihat, bunuh diri, depresi, bahkan kehilangan akal sehatnya. Sungguh ‘cinta’ memang hal yang mematikan.
Dari semua itulah kasus ini mulai terbuka. Memang ini hanyalah fiksi. Tapi, Apakah kalian membanyangkan jika kasus ini nyata?
~~~~~

[CHAPTER 1 : THE WORST CASE]

Friday, August 15th 2013_
Perlahan, pagi membebaskan jeratannya dari malam. Seluruh kedinginan malam berganti menjadi pagi yang amat hangat. Siapa kira kesempatan ini justru membuat seorang namja tampak tertidur dengan lelap di meja kerjanya. Hingga seseorang pun membangunkannya.
“Ya! Detektif Kim!” serunya. Namja itu tak kunjung bangun. “Ya, Detektif Kim! Ya, Kim Taehyung-sshi! Apakah kamu tertidur semalaman disini?” tanyanya. Namja itu pun terbangun.
“Mwo?” tanya namja yang bernama Taehyung itu sembari membenarkan kacamatanya yang kini berada di ujung batang hidungnya. “Aisshh!  Kenapa aku bisa sampai terlelap disini? Tanyanya. Taehyung pun melihat kearah namja yang membangunkannya itu. “Ya! Jeon Jungkook! Apakah kau memberiku obat tidur?” guraunya kepada Jungkook, namja yang membangunkannya tadi.
“Aisshh! Kau harus bersyukur aku telah membangunkanmu pagi ini! kalau tidak, kau pasti akan dimaki Seokjin hyung lagi!” tuturnya. Jungkook pun meletakkan berkas-berkasnya ke meja kerjanya. Sesaat ia melihat seseorang yang keluar dari pintu, lalu menyapanya. “Ah, Jimin hyung! sapanya.
“Oh, Jungkook-ah. Mana Taehyung? Apakah ia sudah datang?” tanyanya. Jungkook pun melirik Taehyung yang berada di sudut ruangan. Jimin mengerti. Sementara Taehyung hanya melihat malas kedua orang itu. “Ya! Kim Taehyung! Ini kasus barumu!”
“Oh? Kenapa kau tidak memberinya saja kepada Seokjin-hyung?” tanya Taehyung.
“Dia di pindah tugaskan ke Gwangju kira-kira seminggu.”
“Oh, keurae,” Paham Taehyung. Jimin pun meletakkan empat tumpuk kasus-kasus yang harus dikerjakan Taehyung. “Kenapa kau bawa empat kasus langsung?” tanya Taehyung heran sambil melihat empat tumpuk itu dengan penuh curiga.
“Ya, kukira semua ini adalah pembunuhan berantai. Jadi, mungkin kasus ini saling berhubungan satu sama lain.” Ujar Jimin agak melunak.
“Jinjayo?” tanya Namjoon yang baru datang, disusul dengan Jungkook yang mengikutinya. “Apakah ini kasus pembunuhan berulang yang dialami beberapa artis dan model akhir-akhir ini?” tanya Namjoon.
“Kau benar,” setuju Jimin.
“Hmm, kemana Hoseok, Yoongi, dan Seokjin hyung, eoh?” tanya Namjoon sembari melihat
“Seokjin hyung sedang di pindah tugaskan ke Gwangju. Kalau tidak salah karena kasus pembunuhan anak balita. Tentunya dia akan balik jika kasus itu sudah tuntas. Dan kalau tidak salah, Hoseok hyung dan Yoongi hyung pergi ke pengadilan melihat keputusan hakim atas pembunuhan Jang Nayeon.” Jelas Jimin.
“Aktris Jang Nayeon?” tanya Taehyung.
“Ne. Banyak orang yang prihatin atas kejadian ini. Kalian tahu sendiri kan, akhir-akhir ini ia cukup tenar dengan film barunya.” Ujar Namjoon.
“Ah, kasihan sekali. Jadi bagaimana keputusannya?” tanya Jungkook penasaran.
“Seperti yang kita kira, kasus itu ditutup.” Balas Yoongi yang baru masuk, yang diikuti oleh Hoseok. “Tapi, tetap saja, aku kurang yakin dengan keputusan hakim. Sepertinya, ada orang dibalik semua ini.” tambah Yoongi. “Kasus apa itu, eoh? Kenapa banyak sekali? Kau yakin akan bisa mengerjakan ini semua, Taehyung-ah?” tanya Yoongi sembari menunjuk setumpuk buku kasus yang kini berada di meja Taehyung. Taehyung menaikkan bahunya mengisyaratkan ia tak yakin dengan pasti.
“Ya! Jangan remehkan Taehyung. Bagaimana pun dialah wakil ketua tim kita. Dan tentu dia akan menjadi pemimpin kita selama beberapa hari kedepan. Sampai Seokjin hyung menyelesaikan kasusnya di Gwangju.” Goda Hoseok.
“Itukan hanya beberapa hari saja.” Sanggah Taehyung.
“Ah, itu bukan masalah. Nikmati saja, Taehyung-ah!” goda Hoseok lagi dengan senyum jahilnya. Kini bukan Hoseok saja, Jungkook, Jimin, Namjoon, dan Yoongi pun tertawa geli melihat tingkah wakil ketua tim mereka itu.
“Ah, apakah kasus yang kau dapati terlalu susah sehingga membuatmu begitu tak menginginkan jabatam yang lebih tinggi?” tanya Yoongi terkekeh. “Biar kulihat!” sergah Yoongi sambil mengambil beberapa berkas kasus yang akan diselesaikan rekannya itu. “Kematian Cha Hyesun, Kematian Yoo Heejung, Kematian Oh Hwayeong, dan kematian Han Hyemi. Bukankah mereka semua model dan artis terkenal saat ini?” tanya Yoongi yang mulai serius.
“Keurae, dan aku harus menghadapi semuanya sendirian, dengan kelompok kasus baru berjudul ‘pembunuhan berantai’ dikalangan madel dan aktris .” Ujar Taehyung letih.
“Hmm...” Hoseok memijat dagunya, “Sepertinya, cukup rumit.” Tuturnya.
“Ya, kalian tahu itu,” ujar Namjoon.
~~~~~

 “Argghh! Kasus apa ini? Aku bahkan tak menemukan sedikit pun hal yang mencurigakan!” geram Taehyung. Taehyung pun menopang dahinya dengan tangannya. Sesekali ia meminum americano-nya yang sudah dingin dimakan waktu yang lama. “Ah! Bagaimana ini bisa!” pasrah Taehyung. Taehyung pun beranjak dari meja kerjanya. Tiba-tiba handphone taehyung berbunyi.
“Haruman... neowa naega hamke halsu itdamyeon. Haruman... neowa naega sonja....” dering handphone Taehyung. Taehyung pun mengambilnya dan menjawabnya.
“Oh, eomma!” sapa Taehyung memulai percakapan dengan eommanya. Taehyung pun mendengar isak tagis.
“Taehyung-ah!” ujar eommanya.
“Ne?” tanya Taehyung. Isakan tangis itupun mulai keras. Taehyung cemas. “Waeyo, eomma?”
“Neon... noen appa.....” tutur eommanya terbata-bata. “Kecelakaan.” Tambah eommanya. Taehyung pun berdiri mematung. Tidak berkutik sedikitpun. Perlahan, handphon yang dipengannya pun jatuh. Bukan disengaja.
~~~~~

“Oh, kau sudah datang. Kemari, duduklah.” Pinta eomma Taehyung. Taehyung pun duduk.
“Appa.... Apa yang telah terjadi? Mengapa kau begini?” tanya Tehyung sedih melihat Appa-nya yang terbujur kaku di ranjang rumah sakit.
“Dia ditabrak. Dan pelakunya, belum ada yang pasti.” Balas eommanya dengan menatap sedih suaminya itu.
“Mwohasseo? Kau adalah dokter! Mengapa kau yang sakit!” marah Taehyung. “Kau bahkan berjanji kau akan lebih baik jika aku pergi! Tapi, sekarang apa? Kau yang melanggarnya!” tambah Taehyung. “Kau yang menjadikanku kuat. Tapi, sekarang kau terbujur lemah dihadapan anak yang kau bimbing kuat ini!” ujar Taehyung melembut.
“Sudahlah! Itu hanya masa lalu!” pinta eommanya.
~~~~~

“Sudahlah! Jangan kawatirkan dia! Kau anak yang kuat, sama dengan ayahmu!” tutur eomma Taehyung. “Biar aku yang menjaganya. Kau temukan saja siapa pelakunya.” Perintah eommanya.
“Ne, aku akan berusaha sekuat mungkin, aku akan menemukan pelakunya!” janji Taehyung.
“Ne, itu lebih baik. Pulanglah! Dan temukan pelaku ayahmu yang pengecut itu.”
“Ne. Jaga kesehatanmu juga, eoh?” ujar Taehyung. Eommanya hanya tersenyum. ”Aku pergi dulu.” Pamitnya.

-TO BE CONTINUED-